Ilalang_Travelling_Pepes_1

Pepes Pahlawan Sunda yang Berbeda

Pepes atau pais itulah sebutan kuliner masakan sunda. Apapun bahan yang dipepes selalu lumat luluh sehingga wujud bahan yang dipepes kerap tak berbentuk lagi. Segala yang ada di “TATAR SUNDA” sungguh jelita alias cantik jelita kecuali ya yang satu ini PEPES! Hehe.. namun jangan dilihat dari segi fisik penampilannya, tapi setelah dibukaa.. emmmmmm aroma khas daun pisang dan daun kemangi (biasa buat aroma) si jelek buruk rupa ini tak kalah menggoda soob..

Ilalang_Travelling_Pepes_3

            Dapur warung makan warung jeruk di Ciamis, Jawa Barat, hampir sibuk setiap hari. Uap atau asap alias kebul-kebul kukusan memenuhi seluruh ruangan dapur yang terletak dibawah warung makan tersebut. Lembaran daun pisang, irisan tomat, serai dan beberapa potong ikan gurami (gurameh-àkalo orang jawa) serta empat tungku yang dibawahnya terdapat kayu yang terbakar, menambah pemandangan indah dapur tersebut.

Ilalang_Travelling_Pepes_4

            Ragam pepes atau sederetan pepes diwarung yang berdiri sejak 1958 (*engga pegel apa yaa?? hehe) itu menunjukkan beragam pepes yang tersaji. Tiap pepes gurami ditandai dengan 2 lidi di ujung bungkusannya. Pepes ikan nilam ditandai dengan 2 lidi di tengah2 bungkusannya(*kalo pedes karetnya 2 yang merah, emangnya nasi goreng?? hehehe). Ya, khusus warung ini selalu memepes ikan nilam yang sedang bunting (*huhuhu kaciaaan L ) yang telurnya sungguh lezzaaatoos. Hehehe.. lain lagi dengan pepes lele ditandai 1 lidi ditengah bungkus daun pisangnya, kalo pepes ikan mas, kedua ujung daun pisang dilipat sedemikian rupa sehingga…. Ya begindaaang dah pokoknya. Hihihihi..

Sajian pepes ikan di warung ini memang langka (jangan dibaca kayak orang banyumas yaa!!! Karena artinya langka itu engga ada sama sekali. hehe) diantaranya pepes dage berbahan galendo atau ampas minyak kelapa, pepes ayam, pepes tahu dan begitu juga ada pepes jamur.

Seiring kian membludaknya konsumen yang berbondong bondong dating ke warung ini sudah tidak lagi punya cukup waktu untuk memasak dengan abu perapian, kenapa?? *hayooo kenapaa?? Ya jawabannya pasti KARENA, yes anda betul sekali, hehe. Karena bila memasak dengan abu perapian akan memakan waktu yang lebih lama dari 7 hingga 8 jam, hasilnya sih emang enaaaaaak, pepes kering, renyah dengan resapan bumbu yang seiring berjalannya aroma daun pisang yang terbakar. Emmmmm, gak kebayang deh, makannya rasain sendiri kesana!!!! Hehehe

Ilalang_Travelling_Pepes_5

            Semua pepes dikukus dengan hawu berbahan kayu yang suhunya lebih rendah ketimbang kompor minyak tanah (*masih jaman yaaa??) dan kompor gas. Suhu api yang rendah memungkinkan proses memasak yang lebih lambat dan lama sehingga aneka bumbu dan rempah lebih meresap dalam  pepes tersebut, memang sensasi memakannya berbeda kerena pepes yang dikukus lembab, namun karena dikukus dengan hawu, rasanya tak kalah mantaaaappsssss..

Beda lagi sama warung dedeh (bukan mamah dedeh lhoooh) yang terselip diantara perbukitan yang kini penuh dengan rumah mewah, ditepian hamparan lapangan golf di Dago pakar, kota Bandung, hawu atau tungku dan kayu sebagai bahan bahan bakar menjadi kunci untuk mengukus pepes (*aah perasaan sama deh, engga ada bedanya, hehe iyaa samaa ternyata, sama2 pake hawu n kayu bakar). Dari dapurnya selalu menebar bau khas kayu bakar dan sajian macam2 pepes seperti pepes jamur, ikan teri, tahu, peda, ayam, dan pepes usus. Menu yang paling special di warung dedeh adalah pepes impung alias pepes anakan ikan mas.

Memang masakan sunda gak lepas dair lalapan, pepes, sambel dan tentunya jelema-jelemannya alias awewe nya gareulis pisaaan euui.. hehehe bercanda soob. Sahabat ilalang yang akan travelling, jelong-jelong dan kuliner nusantara, jangan lupa OLEH-OLEHnya hihihihi (maksudnya jangan lupa mampir2 ngicipin kuliner nusantara kita kalo bisa ya bawa cindera mata) sekian. (oleh: H/A)

908 Total Views 1 Views Today
Posted in Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *